⌊ K™¦krizzna.web.id ⌉

Sekedar coretan seorang nyubi

Kota Kembang Kian Merana

Posted on

BANDUNG Kota Kembang. Itulah salah satu julukan kota ini dari sekian banyak predikat yang disandangnya. Namun, hingga saat ini belum ada yang mengetahui dengan tepat latar belakang kenapa Bandung memperoleh sebutan itu. Apakah predikat tsb, karena Bandung tempo doeloe memang banyak tumbuh aneka tanaman bunga, entahlah.

“Kuncen Bandung”, almarhum Haryoto Kunto melalui bukunya “Wajah Bandung Tempo Doeloe” juga tak bisa menjawab secara pasti pertanyaan tsb. Hanya dia menyebutkan, sebutan “Bandung Kota Kembang” berawal dari kota ini pada akhir abad ke-19 atau tepatnya tahun 1896 mendapat kehormatan sebagai tempat kongres pertama Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula yang berkedudukan di Surabaya. Kepercayaan tsb. bagi Jacob, panitia kongres saat itu, di satu sisi, tentu sebuah kebanggaan. Ia dipercaya sebagai penyelenggara kongres para pengusaha kaya-raya. Tetapi di sisi lain, sebuah beban. Maklum, Bandung saat itu, miskin sarana pendukung. Jln. Braga tidak seperti sekarang, mulus diaspal hotmix. Saat itu, jalan tsb. bisa tiba-tiba berubah menjadi kubangan lumpur bila turun hujan. Jembatan Cikapundung di Jln. Asia-Afrika hanya berupa susunan balok kayu yang dilapisi jerami. Dengan kondisi seperti itu, orang-orang Belanda dari luar kota sering menyebut Bandung sebagai “kota mungil”.

Di saat Jacob sebagai tuan rumah kebingungan karena bakal tidak bisa memberikan pelayanan yang baik kepada para peserta kongres, datang saran dari Schenk, seorang pemilik perkebunan di Priangan yang terkenal royal. Untuk memeriahkan dan menyukseskan kongres itu, ia memboyong sejumlah gadis cantik Indo-Belanda dari Perkebunan Pasirmalang. Dengan kehadiran sejumlah gadis itulah, kongres akhirnya dinyatakan sukses besar. Lewat dari mulut ke mulut para peserta kongres, Bandung disebut sebagai De Bloem der Indische Bergsteden (Bunganya Kota Pegunungan di Hindia Belanda).

Tetapi, apakah sebutan bloem (bunga/kembang) yang diucapkan peserta kongres ditujukan kepada Kota Bandung yang memang saat itu banyak bunga atau karena dihadirkannya gadis-gadis cantik saat kongres berlangsung, sehingga hati peserta kongres “berbunga-bunga”? Yang pasti, kata Kuncen Bandung, saat itu di kota ini hanya ada satu taman.

Namun, Haryoto Kunto di halaman lain bukunya menyebutkan, mustahil Bandung tempo doeloe mendapat julukan Kota Kembang kalau tidak ada bunganya yang berserakan tumbuh di segenap penjuru kota. Ia menyatakan, bagaimana mungkin Toko Kembang “Abundanita” di Jln. Braga harus mengirim bunga segar setiap pagi ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jakarta, kalau kota ini bukan lautan bunga. Tak mungkin George Clemenceau, Perdana Menteri Perancis saat itu atau Charlie Chaplin bisa terpukau pesona indah taman Kota Bandung, kalau tidak bunga di taman kotanya cantik menarik hati.

Dr. W.D van Leeuwen malahan pada tahun 1915 menemukan sejenis anggrek yang langka di wilayah Kota bandung. Temuannya itu diberi nama Microstylis Banngensis. Selain itu, ditemukan pula anggrek Nervillea Aragona. Dengan data tsb, sebutan “Bandung Kota Kembang” bukan sebuah ilusi atau sekadar sindiran halus untuk menyebut “kota tempat berkumpulnya wanita cantik”, tapi kota ini dulu memang ditumbuhi aneka bunga.

Hanya persoalannya sekarang, di mana daerah penghasil bunga yang pernah mengharumkan kota ini. Di Jln. Wastukencana, hanyalah sejumlah kios bunga. Ternyata daerah penghasil utama (sentra) bunga di Bandung ada di kawasan Cihideung, Kec. Parongpong, daerah Bandung Utara.

Lokasinya yang berada sekitar 10 km dari titik O (nol) pusat Kota Bandung, setelah melalui Jln. Setiabudi dan Jln. Sersan Bajuri, daerah yang terletak pada ketinggian kurang lebih antara 800 – 1.000 meter di atas permukaan laut dengan udara pegunungan yang sejuk menjadi sentra tanaman aneka macam bunga dan tanaman hias. Di sana para petani membudayakan aneka bunga, sehingga para penyuka bunga bisa melihat, memilih berbagai jenis sesuai selera warna dan harga. Karena sekira 100 jenis tanaman bunga dan tanaman hias terhampar dijual para petani sepanjang kiri dan kanan badan Jln. Cihideung.

**

KATAKAN cinta dengan bunga, itulah kata-kata yang sering kita dengar terhadap makna bunga dalam kehidupan. Kalau kita telusuri, ungkapan itu terasa ada benarnya. Banyak orang mengatakan, jatuh cinta itu sesuatu yang indah, sekali pun terkadang menyakitkan. Dan, untuk menggambarkan susuatu yang indah, bunga salah satu yang bisa mewakilinya.

Suasana yang indah itu terasa kalau kita melewati Jln. Sersan Bajuri menuju Parongpong. Ribuan tanaman bunga dengan aneka warna dan bentuk terlihat dan terasa menyejukan hati dan mata.

Keberadaan ini telah memicu nama Cihideung sebagai kawasan wisata. Sebutan “Wisata Bunga” cukup beralasan karena di kawasan yang terbentang dari utara ke selatan sepanjang kurang lebih 3 km ini hampir di sepanjang tepi jalan raya dijadikan lokasi penjualan bunga.

Banyaknya bunga dijajakan di sana sangat dimungkinkan, karena mata pencaharian warga Desa Cihideung dan enam desa di sekitarnya yaitu Cihanjuang, Cihanjuang Rahayu, Sariwangi, Karyawangi, Cigugur, dan Ciwaruga sebagai petani bunga. Tapi, sekalipun 80% dari 7.000 penduduk Cihideung bergelut sebagai petani bunga, pada saat-saat tertentu seperti lebaran, mereka tak mampu memenuhi permintaan.

Bunga ternyata tidak hanya mengandung keindahan, tapi sekaligus mempunyai nilai. Karena cukup banyaknya penyuka bunga, maka harga bunga relatif tinggi. Sehingga warga di sana bisa menikmati hasil usahanya. Hal tsb terlihat dari bangunan rumah maupun kendaraan roda empat atau dua yang parkir di halaman rumahnya.

Hanya sayangnya, sekalipun Cihideung dan sekitarnya merupakan daerah produktif, ternyata perhatian Pemkab Bandung dirasakan warga sangat kurang, khususnya dalam mengembangkan Cihideung sebagai kawasan “wisata bunga”. Padahal wisata bunga yang merupakan wisata alam menciptakan suatu kawasan rekreasi berwawasan lingkungan tanpa pembangunan fisik, seperti berupa vila atau kompleks permukiman.

“Untuk dijual sebagai objek wisata bunga, kawasan Cihideung memang perlu penataan sarana prasarananya. Misalnya kebutuhan untuk lahan parkir kendaraan sampai pusat informasi,” tutur Kepala Desa Cihideung, Aji Sudrajat .

Penduduk Desa Cihideung yang mayoritas adalah petani bunga, sejauh ini sangat minim disentuh pembinaan dinas/instansi terkait dalam kaitan usaha budi daya tanaman bunga dan tanaman hias. Walaupun ada pembinaan, tapi dilaksanakan bersamaan dengan penjelasan produk baru obat-obatan. “Itu pun sangat langka,” tutur Ujang petani setempat. Padahal transaksi usaha di wilayah ini pada setiap bulannya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Puluhan truk setiap bulannya, mengangkut berbagai jenis tanaman bunga dan tanaman hias keluar Cihideung.

Namun, pendapat itu disanggah pejabat Pemkab Bandung. Pemkab Bandung tak berdiam diri, baik dari sisi pertanian dan non pertanian. Antara lain meliputi upaya peningkatan kualitas dan kuantitas tanaman sedangkan dari sisi non pertanian meliputi pemberian legalitas, peningkatan infrastuktur dan permodalan.

Karena lahan di Desa Cihideung tak terlalu luas, Pemkab Bandung menggunakan cara intensifikasi yang sarat dengan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas bunga seperti memperkenalkan teknologi penyinaran lampu untuk membantu proses fotosintesis.

Menurut Kepala Sub Dinas Holtikultura Dinas Pertanian Kab. Bandung, Ir. A. Tisna Umaran, upaya tsb sudah lama diperkenalkan kepada petani dan hasilnya sangat memuaskan. Buktinya, kualitas dan kuantitas bunga Cihideung sudah diakui hingga ke pasar mancanegera.

Upaya pembinaan juga dilakukan dengan melibatkan pihak universitas. “Kerjasama itu antara lain dengan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran untuk membangun Projek Percontohan Bunga-Bunga Unggulan di atas lahan sekira 3.000 m2 yang berlokasi di Kantor Kec. Parongpong dalam waktu dekat ini,” kata Camat Parongpong, Drs. Maman S. Sunjaya.

Pada projek percontohan itu, para petani bisa mempelajari bagaimanan cara menaman, memetik dan mengemas bunga dengan baik disertai jalur pemasarannya. Selain itu, bunga yang ditawarkan sebagai alternaitf juga sangat bervariasi, tidak hanya yang sudah dikenal masyarakat saja. Banyak bunga-bunga baru yang bisa dijadikan alternatif dalam berbisnis yang akan diperkenalkan dalam projek itu

Maman menjelaskan, alternatif bunga-bunga baru yang diperkenalkan itu sangat penting untuk menghindari kejenuhan dari para konsumen terhadap satu jenis bunga. “Jika ada bunga-bunga yang selama ini mengalami kemacetan pemasaran, para petani bisa mencoba beralih ke jenis bunga lainnya,” katanya.

Tetapi tampaknya, kendala yang cukup serius yang menghadang usaha budidaya tanaman bunga di Cihideung dan sekitarnya yaitu banyaknya lahan yang beralih-fungsi. Semula kebun bunga, kini berubah menjadi kompleks perumahan, vila, dan bangunan. Fakta itu bisa dilihat di sisi kiri kanan sepanjang Jln. Sersan Bajuri menuju Parongpong. Jika itu terjadi, Bandung Kota Kembang hanya tinggal kenangan.

Barangkali Margreet Farret Jentink, putri seorang penerbang Belanda yang dulu pernah tinggal di Litsonlaan (Jln. Merjuk, Kebon Kawung) jika masih hidup akan kecewa. Karena sekalipun ia akhirnya harus meninggalkan Bandung, tapi tak bisa melupakannya. Ia dalam penjelasannya mengatakan, “Buat kami yang tinggal di negeri bertanah datar seperti Nederland, maka Kota Bandung yang dikepung gunung membiru, bukit dan lembah menghijau dengan jalan-jalannya yang nanjak dan berkelok-kelok, sungguh memukau dan mempesona”.

Barangkali pula sajak yang dibuat P. Van den Munchof tidak lagi mempunyai kekuatan. Sajak itu yang bila diterjemahkan bunyinya,

Kini aku tinggal di Holland nan muram namun hatiku terpaku di negeri Timur di mana Kembang Sepatu bermekaran dan bagiku lagu kroncong jadi penghibur. (Suparman Watmadihardja/ “PR”)

Share and Enjoy:
  • printfriendly Kota Kembang Kian Merana
  • digg Kota Kembang Kian Merana
  • delicious Kota Kembang Kian Merana
  • facebook Kota Kembang Kian Merana
  • yahoobuzz Kota Kembang Kian Merana
  • twitter Kota Kembang Kian Merana
  • googlebookmark Kota Kembang Kian Merana
  • email link Kota Kembang Kian Merana
  • linkedin Kota Kembang Kian Merana
  • live Kota Kembang Kian Merana
  • myspace Kota Kembang Kian Merana
  • pdf Kota Kembang Kian Merana
  • plurk Kota Kembang Kian Merana
  • slashdot Kota Kembang Kian Merana
  • technorati Kota Kembang Kian Merana
  • tumblr Kota Kembang Kian Merana
  • hackernews Kota Kembang Kian Merana

Tags: , ,